Hari berganti, tak terasa kita akan kembali ke hari yang suci
Hari dimana wajah berseri,
Dengan kerendahan hati, Saya LARASHATI ..
Memohon keikhlasan untuk memaafkan kesalahan.
Entah dari isi artikel yang saya pinjam dari link lain,
atau ada dari artikel yang menyinggung..
Taqabalallahuminawaminkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin
Pantaskah kita mengeluh?
Padahal kita telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia.
Layakkah kita berkeluh kesah?
Padahal kita telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan kita untuk membenahi segala sesuatunya.
Apakah kita bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu?
Lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab kita?
Janganlah kekuatan yang ada pada diri kita, terjungkal karena kita berkeluh kesah.
Ayo tegarkan hati kawan....
Tegakkan bahu.
Jangan biarkan semangat hilang hanya karena kamu tidak tahu jawaban dari masalah kamu tersebut.
Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu.
Ambillah sebuah nafas dalam-dalam.
Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benakmu.
Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung.
Dan mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding kita.
Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh.
Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani dari pada mereka sesali.
Jika demikian, masihkah kamu lebih suka mengeluh dari pada menjalani tantangan hidup ini?
Heyyy.... tetaplah menjadi orang yang beruntung dan bersyukur atas apa yang kamu punya kawan...
Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular yang akan dilatih bermain sirkus. Beberapa hari kemudian, ia menemukan beberapa anak ular dan mulai melatihnya. Mula-mula anak ular itu dibelitkan pada kakinya.
Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan yang lebih berbahaya, di antaranya membelit tubuh pelatihnya.
Sesudah berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu mulai mengadakan pertunjukkan untuk umum.
Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak. Uang yang diterimanya semakin besar. Suatu hari, permainan segera dimulai. Atraksi demi atraksi silih berganti. Semua penonton tidak putus-putusnya bertepuk tangan menyambut setiap pertunjukkan.
Akhirnya, tibalah acara yang mendebarkan, yaitu permainan ular.
Pemain sirkus memerintahkan ular itu untuk membelit tubuhnya. Seperti biasa, ular itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mulai melilitkan tubuhnya sedikit demi sedikit pada tubuh tuannya. Makin lama makin keras lilitannya. Pemain sirkus kesakitan. Oleh karena itu ia lalu memerintahkan agar ular itu melepaskan lilitannya, tetapi ia tidak taat. Sebaliknya ia semakin liar dan lilitannya semakin kuat. Para penonton menjadi panik, ketika jeritan yang sangat memilukan terdengar dari pemain sirkus itu, dan akhirnya ia terkulai mati.
Renungan : “Kadang-kadang dosa terlihat tidak membahayakan. Kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan kita merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya. Tetapi pada kenyataanya, apabila dosa itu telah mulai melilit hidup kita, sukar dapat melepaskan diri lagi daripadanya.”